Sejarah Trowongan Niyama


Penulis : Mohamad Iqbal Ramadani 220731601548
Pada 17 November 1942, Tulungagung mengalami banjir besar akibat luapan Sungai Brantas yang menghancurkan lebih dari 9.000 rumah dan merendam ratusan desa di wilayah selatan Kabupaten Tulungagung. Genangan tersebut membentuk rawa yang luas dan dikenal oleh masyarakat sebagai campur darat. Situasi ini mendorong Residen Kediri saat itu, Enji Kihara, untuk merancang proyek saluran pembuangan air dengan membangun terowongan yang menembus bukit dan langsung mengalir ke Samudra Hindia (Andriani, 2020). 

 Pembangunan dimulai pada Februari 1943 dengan melibatkan sekitar 20.000 romusha—tenaga kerja paksa yang direkrut dari berbagai wilayah di sekitar Tulungagung. Mereka dipekerjakan dalam kondisi memprihatinkan, tanpa peralatan berat dan dengan upah minim. Pekerjaan ini menghadapi berbagai hambatan seperti medan rawa, hutan lebat, penyakit malaria, serta kurangnya pasokan makanan. Ribuan romusha dilaporkan jatuh sakit dan meninggal selama proyek berlangsung (Erfina, 2020; Andriani, 2020).

Terowongan ini selesai pada Juli 1944 dan dinamai “Niyama”, yang dalam bahasa Jepang merupakan transliterasi dari istilah Jawa Tumpak Oyot, yaitu akar gunung. Setelah digunakan, banjir besar memang berkurang. Namun, letusan Gunung Kelud tahun 1952 menyebabkan pendangkalan Sungai Brantas, sehingga banjir kembali terjadi pada tahun 1955. Pemerintah Indonesia kemudian merehabilitasi Terowongan Niyama melalui Proyek Brantas tahun 1959 yang didanai dari pampasan perang Jepang (Erfina, 2020). 

Rehabilitasi dilakukan dengan menggandeng perusahaan Jepang, Nippon Koei dan Kashima Kensetsu, dan proyek selesai pada April 1961. Meski demikian, banjir berskala kecil tetap terjadi hingga akhirnya pemerintah membangun Terowongan Niyama II pada masa Orde Baru, yang diresmikan pada tahun 1986 oleh Presiden Soeharto dan diberi nama Terowongan Suka Makmur (Andriani, 2020). Kini, Terowongan Niyama tak hanya menjadi bukti upaya pengendalian bencana, namun juga menyimpan jejak sejarah kekejaman masa pendudukan Jepang serta nilai kearifan lokal masyarakat Tulungagung yang terus diwariskan dari generasi ke generasi (Erfina, 2020).


Daftar Pustaka

Andriani, L. (2020). Terowongan Niyama: Saksi Bisu Romusha dan Ketahanan Wilayah. Jurnal Adminjurnal, Vol. 10, No. 3, hlm. 44–51. 

 Erfina, E. (2020). Mengubah Opini Masyarakat tentang Terowongan Niyama: Dari Simbol Kekejaman Menjadi Bernilai Kearifan Tahu. Jurnal Avatara, Vol. 8, No. 1, hlm. 19–29

Komentar